Mojokerto Kompas News – Musim kemarau biasanya menjadi musim yang menakutkan bagi para petani di lahan kering Namun bagi petani jagung ungu di lahan rawan kemarau malah menjadi berkah luar biasa karena produksi dapat berlipat. (23/8/2026)
Dr. Ns. Elis Anita Farida, S. Kep., M M. Pihak Anwar Medika Corporate. Meyampaikan jagung ungu yang ditanam saat musim kemarau kualitasnya lebih tinggi dari musim hujan. Tongkol buah besar-besar dan merata. Dengan teknologi tepat, budidaya jagung saat kemarau dapat menghasilkan 0,5 Kg per pohon,” ungkapnya.
Ia juga bilang pada musim kemarau matahari bersinar penuh selama 12 jam, sehingga energi cahaya matahari maksimal Jagung butuh banyak energi matahari untuk pengisian bijinya. Sedangkan air sebagai faktor pembatas saat kemarau dapat diatasi dengan teknologi.
“Kita gunakan air dari sungai yang dipompa, kemudian disemprot dengan pomba air karna kemarau masih lama dan di sini tergolong rawan kemarau.
Dengan cara ini air tersebar merata seperti air hujan dengan jangkauan sangat luas tanpa merontokkan kembang jagung. Dampaknya jagung mampu berproduksi maksimal.
“Kalau sudah begini, biasanya banyak jagung berbuah dua tongkol dan besar. Satu pohon menghasilkan rata-rata 0,5 Kg lebih tongkol jagung yang sudah dikupas klobotnya,” ujarnya Dr. Ns. Elis Anita Farida, S. Kep., M M.
Lebih jauh ia menjelaskan, secara teoritis umumnya air menjadi faktor pembatas yang utama di musim kemarau. Menurut hukum “minimum leibig” atau faktor pembatas, jika semua faktor dapat terpenuhi maka kenaikan hasil dibatasi oleh elemen faktor yang terendah. Faktor pembatas ini dapat diatasi di lahan rawan kemarau yang kemudian dijadikan peluang.” Pungkasnya Dr. Ns. Elis Anita Farida, S. Kep., M.M pihak Anwar Medika Corporaten (sud)












