BUDAYA  

Rumah Tempo Dulu Masih Kelihatan Berdiri Di Desa Gempol Klutuk Kecamatan Tarik 

Avatar photo

Sidoarjo Kompas News – Bahwa rumah tradisional di Indonesia dirancang untuk mencapai kenyamanan termal melalui ventilasi alami, pencahayaan, dan pemilihan material yang tepat . Artinya, sejak awal bangunan memang “diprogram untuk tetap sejuk. (18/9/2026)

Sugiono SE M.M. Kepala desa gempol klutuk kecamatan tarik. Menjelaskan saat kunjungi rumah yg berdirinya th 1918 ini masih kelihatan asri apa lagi paduan warna cat yang di oldskan di rumah tersebut.

Berbeda dengan rumah modern yang mengandalkan AC sebagai solusi instan, rumah zaman dulu memanfaatkan prinsip fisika sederhana seperti pergerakan udara dan distribusi panas. Pendekatan ini tidak hanya hemat energi, tetapi juga lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Ia juga bilang Ventilasi Silang yang Dirancang Secara Strategis Ventilasi silang merupakan salah satu elemen paling penting dalam menjaga kesejukan rumah tradisional. Rumah zaman dulu biasanya memiliki banyak bukaan seperti jendela besar, pintu berjalusi serta lubang angin di atas pintu.

Menurut cara manusia menghadapi panas sebelum sda AC, jendela pada masa lalu dirancang khusus untuk menciptakan aliran udara yang efektif. Dengan membuka bagian atas dan bawah jendela, udara panas bisa keluar sementara udara segar masuk.

Selain itu, dalam konteks arsitektur tropis Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa bukaan besar dan dinding yang memungkinkan udara mengalir terus menerus di dalam rumah . Hal ini membuat udara tidak terjebak dan suhu ruangan tetap stabil meskipun cuaca di luar panas” ujarnya

Sugiono SE MM. kepsla desa gempol klituk menambahkan Ciri khas lain dari rumah lama adalah langit-langit yang tinggi. Secara visual mungkin terlihat megah, tetapi sebenarnya memiliki fungsi penting dalam pengaturan suhu.

Dalam studi arsitektur Jawa disebutkan bahwa langit-langit tinggi membantu di mana udara panas akan naik ke atas dan keluar melalui ventilasi di bagian atas bangunan . Dengan demikian, area tempat manusia beraktivitas tetap terisi udara yang lebih sejuk.

Selain itu, volume ruang yang besar juga membuat panas tidak cepat terakumulasi. Ini sangat berbeda dengan rumah modern berplafon rendah yang membuat panas terasa lebih cepat,” pungkasnya kades gempol klutuk (sud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *