Forkopimca Balongbendo Kunjungi Tanaman Toga Kumis Kucing Di Desa Wonokupang 

Avatar photo

Sidoarjo Kompas News – Di tengah kebutuhan kesehatan di dominasi obat-obatan modern dan gaya hidup serba instan, warisan pengobatan tradisional Indonesia seperti Tanaman Obat Keluarga (TOGA) mulai kehilangan perhatian. Padahal, TOGA menyimpan potensi besar sebagai alternatif penanganan awal berbagai keluhan kesehatan ringan dengan cara yang lebih murah, alami, dan minim efek samping.

Kapolsek Balongbendo kompol Dr Sunari SE SH. MM., menjelaskan bahwa TOGA merujuk pada tanaman yang memiliki khasiat kesehatan dan dapat ditanam secara mandiri, baik di pekarangan rumah, pot kecil, maupun media tanam sederhana dari barang bekas.

“Tanaman seperti kumis kucing jahe, kunyit, temulawak, daun sirih, sambiloto, hingga lidah buaya adalah contoh TOGA yang mudah ditemui dan dibudidayakan. Tanaman-tanaman ini terbukti secara empiris mampu membantu meredakan keluhan ringan seperti flu, perut kembung, diare, demam, bahkan tekanan darah tinggi,” jelas kompol dr. Sunari Kapolsek Balongbendo

Sayangnya, meskipun khasiatnya besar, pemanfaatan TOGA belum menjadi pilihan utama masyarakat. Gaya hidup serba cepat dan budaya instan membuat banyak orang lebih memilih obat kemasan yang tersedia di apotek.

Proses pengolahan TOGA yang dianggap merepotkan, mulai dari pencucian, pemotongan, hingga perebusan, menjadi alasan utama masyarakat enggan memanfaatkannya.

“Padahal banyak dari kita tidak sadar bahwa tanaman yang tumbuh di halaman rumah bisa menjadi pertolongan pertama ketika merasa tidak sehat. Dan yang lebih penting, TOGA relatif aman,” imbuhnya. kapolsek

Sementara Ardi Anindita S.STP camat Balongbendo Menyampaikan untuk menggantikan pengobatan medis, melainkan sebagai pelengkap. Ramuan herbal dari TOGA bisa dikonsumsi bersamaan dengan obat kimiawi, asalkan diberi jeda sekitar empat jam agar penyerapan tidak terganggu.

Lebih dari itu, TOGA juga menyimpan potensi ekonomi. Jika diolah lebih lanjut menjadi produk seperti kumis kucing dan serbuk jahe instan atau jamu kemasan, tanaman-tanaman ini bisa bernilai jual tinggi dan berkontribusi pada pendapatan keluarga maupun pelaku UMKM.

“Dengan edukasi dan pelatihan yang tepat, TOGA bisa menjadi produk herbal rumahan yang punya nilai ekonomi. Ini peluang besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga bilang pelestarian TOGA seharusnya dimulai dari rumah, sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Kesadaran menanam, mengenali, dan memanfaatkan tanaman obat tradisional perlu kembali dibudayakan, sebagaimana dilakukan oleh generasi terdahulu.

“Toga adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Bukan sekadar tanaman, tetapi juga representasi dari kearifan lokal dan gaya hidup sehat yang berbasis alam. Dalam setiap rebusan jahe atau temulawak, terkandung nilai warisan leluhur yang mengajarkan kita cara menjaga kesehatan dengan apa yang ada di sekitar,” tutupnya. (Sud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *