Kompasnews9.com || BALIKPAPAN – Kekayaan budaya Nusantara kembali menemukan panggungnya di Kota Balikpapan. Melalui Pekan Budaya Borneo 2026, para maestro, seniman, komunitas budaya, dan masyarakat dari berbagai daerah berkumpul untuk merayakan keberagaman sekaligus memperkuat komitmen menjaga warisan tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Mengusung tema “Jejak Maestro: Merawat Simpul Para Penjaga Tradisi”, kegiatan tersebut resmi dibuka di Taman Bekapai, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (6/11/2026). Festival yang berlangsung pada 4–8 November 2026 ini diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur.
Pekan Budaya Borneo 2026 bukan sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, melainkan juga wadah untuk memperkenalkan sosok-sosok maestro yang selama ini konsisten menjaga, merawat, dan mewariskan pengetahuan kebudayaan kepada generasi penerus.
Melalui penyelenggaraan ini, masyarakat diajak memahami bahwa kebudayaan bukan hanya tentang tarian, musik, pakaian adat, maupun ritual tradisional. Lebih dari itu, kebudayaan merupakan identitas, pengetahuan, nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang tumbuh serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sejumlah maestro turut mengambil bagian dalam memeriahkan kegiatan tersebut. Di antaranya Suwis Santoso yang menampilkan seni Besoyong, Didik Nini Thowok melalui pertunjukan tari topeng, serta Alif Fakod yang memperkenalkan keindahan musik tradisional Sape’.
Beragam ekspresi seni budaya turut menghiasi panggung festival, mulai dari musik Sapeq, Belian Seba Sebi, Buto Kolosal, hingga berbagai kesenian tradisional lainnya.
Pada 7 November, kemeriahan berlanjut dengan penampilan Tari Topeng Penembe oleh Aji Maya Melati, Tari Gantar, Tari Saman, Jepin Tempurung, Tari Piring, Kuda Lumping, Bantengan, Wushu, hingga Barongsai.
Keberagaman pertunjukan tersebut memperlihatkan betapa luasnya khazanah kebudayaan Indonesia. Balikpapan pun menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi, suku, dan identitas yang hidup berdampingan dalam semangat persatuan.
Maestro Mengajar, Menjaga Mata Rantai Warisan Budaya
Salah satu agenda penting dalam Pekan Budaya Borneo 2026 adalah program Maestro Mengajar yang memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian musik tradisional Tingkilan.
Berlangsung pada 4–6 November 2026, kegiatan ini menghadirkan Busu Saipul dan Mbo’ Juita untuk berbagi pengetahuan serta keterampilan kepada generasi muda melalui pembelajaran secara langsung.
Program tersebut menjadi langkah penting dalam mempertemukan pengalaman para maestro dengan semangat belajar generasi penerus. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik memainkan musik Tingkilan, tetapi juga diajak memahami karakter, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Pewarisan pengetahuan secara langsung menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Sebab, tanpa regenerasi, berbagai keterampilan dan pengetahuan budaya yang selama ini dijaga para maestro berisiko semakin terpinggirkan oleh perkembangan zaman.
Karena itu, kehadiran generasi muda dalam proses pembelajaran budaya menjadi harapan agar tradisi tidak sekadar dikenang, tetapi terus dipraktikkan dan dikembangkan.
Jejak Rasa Nusantara, Kuliner Menjadi Identitas Budaya
Kekayaan budaya yang ditampilkan dalam festival ini tidak hanya berasal dari seni pertunjukan. Aspek kuliner juga mendapatkan ruang melalui agenda Jejak Rasa Nusantara yang melibatkan 30 paguyuban dari berbagai suku di Indonesia.
Kegiatan tersebut memperkenalkan kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat.
Setiap hidangan memiliki kisah tersendiri, mulai dari bahan pangan yang digunakan, teknik pengolahan, cara penyajian, hingga nilai-nilai tradisi yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, kuliner tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan identitas suatu komunitas.
Selain itu, Tari Ronggeng Massal turut menjadi daya tarik tersendiri. Kegiatan ini mengajak masyarakat terlibat langsung dalam perayaan budaya, sehingga masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga menjadi bagian dari pelaku pelestarian tradisi.
Kalimantan Culture Carnival Siap Semarakkan Kota Balikpapan
Rangkaian Pekan Budaya Borneo 2026 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 8 November melalui penyelenggaraan Kalimantan Culture Carnival.
Karnaval tersebut akan menghadirkan kreativitas peserta melalui busana, musik, gerak, serta beragam ekspresi kebudayaan. Rute kegiatan dijadwalkan melintasi Jalan Sudirman dengan titik akhir di Taman Bekapai, Balikpapan.
Pemanfaatan ruang publik sebagai lokasi kegiatan menjadi salah satu upaya mendekatkan kebudayaan kepada masyarakat. Dengan menghadirkan pertunjukan di tengah kota, seni dan tradisi diharapkan semakin mudah diakses, dikenal, serta diapresiasi oleh berbagai kalangan.
Selain memperkuat identitas budaya, kegiatan ini juga membuka peluang bagi komunitas seni, pelaku ekonomi kreatif, dan UMKM untuk memperkenalkan produk serta potensi daerah kepada masyarakat luas.
Pelestarian Budaya Membutuhkan Komitmen Berkelanjutan
Pekan Budaya Borneo 2026 memberikan pesan penting bahwa menjaga warisan leluhur tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan festival atau pertunjukan seremonial.
Diperlukan komitmen berkelanjutan dari pemerintah, para maestro, komunitas adat, seniman, lembaga pendidikan, generasi muda, serta seluruh elemen masyarakat.
Pembinaan pelaku seni, dokumentasi warisan budaya, perlindungan terhadap maestro, dan penyediaan ruang pembelajaran harus terus diperkuat agar kekayaan tradisi tidak kehilangan mata rantai pewarisannya.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, kebudayaan justru harus menjadi kekuatan identitas yang mampu dipertahankan sekaligus diwariskan tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.
Pekan Budaya Borneo 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda perayaan tahunan. Kegiatan ini diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama dalam merawat keberagaman, memperkuat persaudaraan, serta memastikan warisan budaya Borneo dan Nusantara tetap hidup di tengah generasi yang terus berkembang.
BORNEO MENYAPA, NUSANTARA BERSUA!
(Rustam Afandiy)












